KEBAB "MUMTAAZ"


Kebab "Mumtaaz" Primadona Tegal

BEBERAPA bulan terakhir, sering terlihat gerobak-gerobak atau kedai makanan khas Timur Tengah ikut meramaikan penjual makanan di pinggir jalan strategis Kota Tegal.

Jenis makanan utama yang disajikan adalah kebab berupa daging panggang yang dimodifikasi dan dicampur dengan telur, sayuran, daging ayam dan saus hingga menyerupai makanan cepat saji lainnya seperti hot dog dan pizza.

Selain Kebab, juga terdapat makanan lainnya seperti roti maryam, syawarna, sambosa dan konde. Harganya pun cukup terjangkau dimulai dari Rp 7.000 hingga Rp 12 ribu.
Menurut Hussein Ibrahim (29), salah seorang pengusaha kebab dengan membuka kedai Mumtaaz, kebab maupun makanan Timur Tengah lainnya yang diproduknya memiliki sedikit selera rasa jauh beda dibandingkan penjual kebab lainnya di Kota Bahari ini.

Salah satunya adalah racikan daging dan bumbunya meresap di lidah jika dimakan, sehingga membuat lebih gurih serta enak, dimana masyarakat akan menjadi ketagihan. "Apabila disesuaikan dengan rasa asli timur tengah, takutnya lidah orang indonesia protes, karena asing," ucapnya.

Ide memproduksi kebab ditemukannya saat membaca majalah makanan dan terlintas di pikirannya untuk membuka kedai. Kedai yang diberi nama Mumtaaz, baru dibuka sekitar dua bulan lalu dan terletak di Jalan Gajah Mada, sudah menunjukkan hasil yang cukup memuaskan.

"Sebab, saya telah memiliki dua cabang disini, yakni kedai kebab di Alun-Alun dan jalan Gajah Mada. Dari dua cabang tersebut, omzet yang diperolehnya selama dua terakhir sekitar Rp 30 Juta," ujarnya.

Ia menambahkan, pelanggan makanan khas ini kian bertambah banyak. Dan pelanggan tidak hanya berasal dari Kota Tegal saja, tapi juga berasal dari luar Tegal seperti Semarang, Jakarta, dan Kuningan. Pasalnya, promosi usahanya yang digencarkan hanya melewati internet, yakni facebook dimana sedang membooming.

Sedangkan, radio dan media cetak belum pernah sama sekali. Tapi, promosi lewat facebook cukup bagus, karena telah memiliki pelanggan hampir 100 dalam waktu dua bulan.

"Saya optimis usaha ini diharapkan bisa lebih meningkat di kemudian hari, sehingga bisa memperluas cabangnya hingga kota-kota besar maupun dunia, karena peluang bisnis makanan takkan pernah ada matinya sampai kapanpun," ungkapnya.

( Susanti Retno / CN13 )http://suaramerdeka.com/

0 komentar:

Poskan Komentar